Selasa, 28 Oktober 2014



Sama dengan kebanyakan ikan air tawar lainnya, ikan gurame mempunyai siklus hidup sebagai berikut :
Tabel 1. Tahapan ukuran ikan gurami
TAHAP
UKURAN
USIA
Telur
n/a
1-2 Hari
Larva
1-2 cm
s/d 30 Hari
Benih
Jempol - Silet - Korek
s/d 160 Hari
Konsumsi
0,3 s/d 0,7 Kg
s/d 360 Hari
Indukan
n/a
Mulai 2-3 tahun

A. Telur

Telur ikan gurame tidak tenggelam serta tidak bersifat adhesif. Segera setelah keluar dari induknya telur akan melayang bebas di air. Itulah sebabnya induk gurame memijah di sarang yang sudah dibuat sebelumnya sehingga telur-telur yang dikeluarkan tidak bertebaran kemana mana.
Setelah memijah, induk gurame masih akan merawat telur telur tersebut.Telur gurame akan menetas dalam selang waktu 36 – 48 jam pada padat tebar 4 – 5 butir/cm2 dengan kedalaman air 10 – 20 cm dan pemberian aerasi kecil pada suhu 29 – 30 oC. Larva ikan gurami yang menetas akan terapung dengan bagian perut berada di sebelah atas.
Telur yang sehat akan berwarna kuning bening sedangkan yang yang berwana kuning seperti kuning telur (tidak tembus pandang) adalah telur yang tidak sehat atau mati. Dalam fase ini terjadi pembentukan baik organ dalam tubuh maupun luar sehingga apabila akan memindahkan atau melakukan penggantian air harus dilakukan dengan sangat hati-hati supaya tidak menyebabkan kerusakan fisik maupun kematian. Telur gurame dapat diperoleh pada beberapa sentra budidaya ikan gurame dengan harga yang relatif murah. Biasanya dalam 1 induk gurame yang berukuran 2.5kg sd 3.5kg bisa menghasilkan 2000 sd 5000 telur gurame.

B. Larva
Pada fase ini sudah terlihat bentuk ikan, organ-organ sudah terbentuk sempurna dan larva sudah bisa berenang. Pada tahap awal, larva tidak membutuhkan suplai makanan dari luar karena kuning telur yang ada pada perutnya merupakan sumber makanan. Pada tahap lanjutan dimana larva sudah bisa berenang bebas dapat diberikan makanan / pakan alaminya berupa cacing sutra (Tubifex sp.) maupun kutu air (Daphnia sp.).


Pada tahap ini larva juga masih rentan terhadap kontak fisik sehingga tetap diperlukan kehati-hatian ekstra dalam perawatannya. Selain itu perlu juga diperhatikan supaya tempat perawatan betul-betul bersih dari telur-telur atau larva yang mati, pakan alami yang sudah mati maupun dari predator alaminya. Air yang sudah mulai terlihat kotor atau berminyak di lapisan atasnya dapat diganti separuhnya atau bisa juga hanya ditambah dengan air yang baru.

C. Benih
Setelah kuning telur di perut larva habis tibalah masa pendederan pertama untuk menghasilkan bibit ikan gurame. Pada tahap ini bisa dilakukan penebaran pada kolam tanah kedalaman 20 – 50 cm dengan padat tebar 200 - 300 ekor/m2.


Benih ikan gurame mempunyai periode hidup yang cukup panjang yaitu dari usia 20 hari – 160 hari. Biasanya diantara para pembudidaya maupun pedagang bibit ikan sudah terbentuk pengkategorian bibit berdasarkan besar badan berturut-turut dari kecil ke besar sebagai berikut :
-         Jempol, Silet, Korek


Beberapa daerah ada juga penyebutan lainnya seperti: gas (korek gas), jinggo (bungkus rokok) dan lain sebagainya. Usia kira-kira dari masing-masing ukuran dapat dilihat pada tabel di atas namun sekali lagi yang menjadi patokan (terutama dari segi harga) adalah ukuran dan bukan usia benih itu sendiri.


  Tahap pendederan yaitu tahap pemeliharaan benih gurami sejak 0,5 gram sampai menjadi berat 200-250 gram yang siap dibesarkan. Pendederan dibagi kedalam 5 tahap sebagai berikut :
1.     Pendederan 1 (D1) : pemeliharaan benih 0,5 gram hingga mencapai berat 1 gram selama 1 bulan.
2.     Pendederan 2 (D2) : pemeliharaan benih 1 gram hingga mencapai berat 5 gram selama 1 bulan.
3.     Pendederan 3 (D3) : pemeliharaan benih 5 gram hingga mencapai berat 20-25 gram selama 2 bulan.
4.     Pendederan 4 (D4) : pemeliharaan benih 20 -25 gram hingga mencapai berat 75-100 gram selama 2 bulan.
5.     Pendederan 5 (D5) : pemeliharaan benih 75 -100 gram hingga mencapai berat 200 -250 gram selama 3 bulan.
Pada setiap tahapan pembesaran bibit gurame dilakukan pengurasan, pemindahan / penebaran ulang serta penghitungan ulang bibit gurame. Biasanya tahapan-tahapan itu disebut sebagai pendederan 1 s/d 3. Hal ini dilakukan untuk memastikan padat tebaran yang sesuai dengan tempat yang digunakan dan juga untuk memastikan jumlah serta kondisi benih yang ada.
Pada tahap ini tingkat kelangsungan hidup (survival rate) yang diharapkan adalah 70-80%. Apabila setelah dilakukan penghitungan ternyata bibit yang hidup dibawah itu, harus segera dicek ulang apakah ada predator alami yang menyusup masuk atau cara perawatan yang salah.

D. Konsumsi
Tahap pembesaran yaitu pemeliharaan benih 250-250 gram hingga mencapai ukuran konsumsi dengan berat lebih dari 500 gram selama 3 bulan. Alasan membagi budidaya ikan gurami dalam tahapan tersebut diatas adalah :
1.     Membudidayakan ikan gurami sampai dengan ukuran konsumsi memakan waktu cukup lama sehingga perolehan hasil usaha dirasakan cukup lama.
2.     Permintaan produk untuk setiap tahapan (dalam bentuk telur, benih dan ikan ukuran konsumsi) cukup tinggi.
3.     Keterbatasan modal dan lahan usaha apabila pembudidaya harus melaksanakan tahapan dalam satu siklus penuh.
Dengan demikian maka pembagian tahapan ini membantu pembudidaya dalam hal ini :
1.     Mempersingkat masa panen
2.     Menghasilkan pendapatan pembudidaya dengan keuntungan yang cukup memadai
3.     Menurunkan resiko kegagalan panen
Selain tahapan budidaya sebagaimana tersebut diatas, ada pula yang membagi tahapan pendederan dalam 3 tahapan saja berat 1 gram hingga mencapai berat 20-25 gram. Pembudidaya gurame juga dapat memilih melakukan pembesaran mulai dari bibit berukuran silet atau korek sampai dengan ukuran konsumsi yaitu 0,3 sampai dengan 0,7 kg. Pada fase ini resiko kematian akibat penyakit, salah perawatan atau karena dimangsa predator alami sudah sangat kecil sehingga tingkat kelangsungan hidup (survival rate) dapat mencapai 80-90%. Dengan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi maka secara otomatis aspek usaha pembudidayaan gurame juga menjadi sangat menjanjikan. Pakan yang diberikan pada fase ini dapat berupa dedak, pelet dan ditambah dengan pakan alami yaitu daun-daunan :
-         keladi (Colocasia estulata)
-         ketela pohon (Manihot utilissima)
-         pepaya (Carica papaya)
-         ubi jalar (Ipomoa batatas)



Pembesaran ikan gurame dilakukan di kolam tanah dengan padat tebaran 4-5 ekor/m2. Jadi sebuah kolam ukuran 200 m2 dengan kedalaman air 40-60 cm dapat menghasilkan ikan konsumsi ukuran 0,5 kg sebanyak 400 – 500 kg. Pada saat artikel ini dibuat harga gurame segar di tingkat konsumen mencapai Rp 26.000 - Rp 30.000 per kg.

E. Indukan
Dalam usaha pembudidayaan, indukan menjadi hulu sarana produksi. Karena itu sarana produksi ini harus tersedia setiap saat. Bagi pemula, cara yang mudah untuk mendapatkan induk adalah dengan cara membeli dari pihak lain. Salah satu sumber induk ikan gurame yang bisa dipercaya adalah balai-balai penelitian perikanan. Sumber lainnya adalah balai-balai benih ikan (BBI), dan instansi-instansi terkait lainnya. Karena pada instansi-istansi itu, asal-usul induk lebih jelas, dan cara penyediaannya sudah terprogram dengan jelas pula. Jadi induk dari tempat-tempat itu lebih terjamin kualitasnya.



Cara membedakan jantan dan betina ikan gurame adalah dengan melihat dari dekat tanda-tanda pada tubuh. Bagi pembudidaya lama pasti sudah paham, sehingga membedakannya tidak harus melihat dari dekat, tetapi dari jauh saja sudah cukup. Induk jantan berdahi atau berjidat menonjol, bibir bawah tebal, dasar sirip dadanya berwarna terang keputihan, dan berdagu kuning, gerakan lincah, tubuh lebih terang dan bercahaya; lubang kelamin kemerahan. Bila diletakan pada tempat datar ekornya naik ke atas. Sedangkan betina berdahi datar, bibir bawah lebih tipis, dasar sirip dada berwarna gelap kehitaman dan berdagu keputihan sedikit coklat. Kemudian bila diletakan di tempat datar ekornya digerak-gerakan / diam. Tanda induk betina yang matang gonad : berdagu (atas kepala) datar, perut agak gendut dan tubuh agak kusam.
Berikut ini beberapa tip dalam mencari atau membeli induk ikan :
a.     Belilah induk ketika masih calon induk, yaitu ikan yang masih berukuran 2,5 kg untuk betina, dan 2 kg untuk jantan. Kerena sebelum dipijahkan, induk-induk tersebut harus diadaptasikan terlebih dahulu di lingkungan barunya, agar telur-telutnya berkualitas baik. Oleh sebab itu, induk-induk tersebut harus dibeli tiga bulan sebelumnya. Induk-induk tersebut dipelihara sampai matang gonad, atau hingga siap untuk dipijahkan.
b.     Belilah satu jenis kelamin induk dari seorang pembudidaya pada suatu tempat. Misalnya jenis kelamin betina saja, sedangkan induk jantan dibeli dari pembudidaya di tempat lain yang berjauhan. Jangan sekali-kali membeli induk jantan dan betina dari satu seorang pembudidaya dari satu tempat karena kemungkinan besar kedua jenis induk itu berasal dari satu keturunan. Bila nantinya kedua jenis induk itu dipijahkan, maka akan terjadi perkawinan dalam, atau inbreeding. Inbreeding dapat berakibat kurang baik, dan dapat menurunkan kualitas genetik  sehingga kualitas benih menjadi kurang baik.

Penulis : David Kurniawan, S.St.Pi
Penyuluh Pada Set BAKORLUH Provinsi Jawa Tengah

Senin, 27 Januari 2014

SELEKSI INDUK SIAP MIJAH

Seleksi adalah kegiatan memilih atau memisahkan antara induk-induk yang sudah matang gonad, atau matang telur dengan yang belum. Tujuannya untuk mendapatkan induk-induk yang siap mijah, dimana telur bisa dibuahi dan spermanya bisa membuahi. Kegiatan ini dilakukan setelah pematangan gonad dan sebelum pemijahan.

Sebelum seleksi air kolam disurutkan hingga setinggi 5 cm. Induk ditangkap satu persatu, lalu dilihat kematangan gonadnya. Induk yang matang gonad dimasukan dalam plastik atau karung yang halus dan basah, kemudian diangkut ke bak pemberokan, sedangkan induk yang belum matang gonad dikembalikan lagi ke kolam.
Tanda-tanda induk yang sudah matang atau siap memijah dapat dilihat dari keadaan perut, lubang kelamin dan gerakannya. Induk betina yang siap memijah ditandai dengan perutnya yang gendut, lubang telur membengkak, berwarna kemerahan dan gerakannya yang lamban.
Sedangkan induk jantan yang matang kelamin ditandai dengan warna tubuh lebih cerah, alat kelamin berwarna kemerahan, kemudian bila diurut keluar cairan berwarna putih susu. Pengurutan harus hati-hati dan pelan agar spermanya tidak terlalu banyak keluar. Selain itu juga agar induk jantan tidak stress.
Selain ciri-ciri diatas, induk patin yang akan dipijahkan harus sehat dan tidak luka. Induk yang sakit atau terluka dapat menghambat proses pemijahan. Kadang-kadang induk-induk itu tidak memijah. Karena itu seleksi ini harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak sembarangan. Untuk menjaga agar tidak menular kepada induk-induk yang lain, maka Induk-induk yang sakit atau luka harus dipisahkan.
Satu hal lagi yang diperhatikan dalam seleksi. Jumlah induk jantan yang ditangkap harus lebih banyak dari yang dibutuhkan. Karena meskipun tanda-tanda induk-induk sudah jelas, tetapi seringkali penglihatan mata sering keliru. Terkadang induk jantan yang dianggap sudah matang kelamin malah tidak matang. Atau bisa juga kelebihan jantan yang ditangkap digunakan sebagai cadangan.

BUDIDAYA IKAN PATIN

BUDIDAYA IKAN PATIN
ikan patin sangat bagus untuk dibudidayakan serta memiliki peluang ekonomi di indonesia. Saat ini, pemenuhan atas permintaan ikan patin masih sangat kurang, oleh karena itu usaha budidaya ikan patin sangat layak untuk dikembangkan. Ikan patin seperti halnya ikan lele tidak memiliki sisik dan memiliki semacam duri yang tajam di bagian siripnya keduanya tergolong dalam kelompok catfish. Ada yang menyebut ikan patin dengan Lele Bangkok. Di beberapa daerah ikan patin memiliki nama yang berbeda-beda antara lain ikan Jambal, ikan Juara, Lancang dan Sodarin. Rasa daging ikan patin yang enak dan gurih konon memiliki rasa yang lebih dibandingkan Ikan Lele. Ikan patin memiliki kandungan minyak dan lemak yang cukup banyak di dalam dagingnya.

gambar ilustrasi ikan patin
Teknik budidaya ikan patin relatif mudah, sehingga tidak perlu ragu jika berminat menekuni budidaya ikan ini. Pada awalnya pemenuhan kebutuhan ikan patin hanya mengandalkan penangkapan dari sungai, rawa dan danau sebagai habitat asli ikan patin. Seiring dengan meningkatnya permintaan dan minat masyarakat, ikan patin mulai dibudidayakan di kolam,keramba maupun bak dari semen. Permintaan ikan patin yang terus meningkat memberikan peluang usaha bagi setiap orang untuk menekuni usaha di bidang budidaya ikan patin ini. Dengan permintaan yang demikian meningkat jelas tidak mungkin mengandalkan tangkapan alam, tetapi perlu budidaya ikan patin secara lebih intesnsif.

Persyaratan Budidaya Ikan Patin

Budidaya ikan Patin memerlukan beberapa persyaratan dan kondisi lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan dan perkembangannya antara lain sebagai berikut :
  1.  Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan dan budi daya ikan patin adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
  2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
  3. Apabila pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang disungai maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.
  4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih, tidak terlalu keruhdan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus diperhatikan, untuk menghindari timbulnya jamur, maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).
  5. Suhu air yang baik pada saat penetasan telur menjadi larva di akuarium adalah antara 26-28 derajat C. Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif rendah diperlukan heater (pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang relatif stabil.
  6. PH air berkisar antara: 6,5-7.

Teknik Pemeliharaan Pembesaran Ikan Patin

Pemeliharaan Pembesaran ditujukan untuk pemenuhan Ikan Patin konsumsi. Ikan Patin dikonsumsi dalam berbagai ukuran, antara lain 200 gram sampai 1 kg. Masa panen menyesuaikan dengan permintaan pasar. Ada sebagian yang lebih senang ukuran kecil sekitar 200 gram ada yang lebih dari itu. Pada Usia 6 bulan ikan patin sudah mencapai bobot 600-700 gram.
Ikan Patin akan tumbuh lebih baik di kolam lumpur dengan aliran air yang mengalir cukup baik, meski demikian bisa juga dipeihara pada kolam semen yang tidak mengalir, tetapi perlu diperhatikan kualitas air agar tetap dalam konsisi yang baik. Langkah-langkah pemeliharaan Ikan Patin Sebagai Berikut:
1. Pemupukan
Pada kolam lumpur idealnya perlu dilakukan pemupukan sebelum ikan patin ditebarkan. Pemupukan kolam bertujuan untuk meningkatkan makanan alami dan produktivitas kolam, yaitu dengan cara merangsang pertumbuhan makanan alami sebanyak-banyaknya.Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk hijau dengan dosis 50-700 gram/m 2.
2. Pemberian Pakan
Faktor yang cukup menentukan dalam budi daya ikan patin adalah faktor pemberia makanan. Faktor makanan yang berpengaruh terhadap keberhasilan budi daya ikan patin adalah dari aspek kandungan gizinya, jumlah dan frekuensi pemberin makanan. Pemberian makan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan yang diberikan per hari sebanyak 3-5% dari jumlah berat badan ikan peliharaan. Jumlah makanan selalu berubah setiap bulan, sesuai dengan kenaikan berat badan ikan. Hal ini dapat diketahui dengan cara menimbangnya 5-10 ekor ikan contoh yang diambil dari ikan yang dipelihara (sampel). Pakan yang diberikan adalah Pelet dan bisa ditambahkan makanan alami lainnya seperti kerang, keong emas,bekicot, ikan sisa, sisa dapur dan lain-lain. Makanan alami yang diperoleh dari lingkungan selain mengandung protein tinggi juga menghemat biaya pemeliharaan.
3. Penanganan Hama Dan Penyakit
Salah satu kendala dan masalah Budi daya ikan patin adalah hama dan penyakit. Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung dan kolam hama yang mungkin menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Cegah akses masuk hama tersebut ke kolam atau dengan memasang lampu penerangan si sekitar kolam. Hama tersebut biasanya enggan masuk jika ada sinar lampu. Penyakit ikan patin ada yang disebabkan infeksi dan non-infeksi. Penyakit non-infeksi adalah penyakit yang timbul akibatadanya gangguan faktor yang bukan patogen. Penyakit non-infeksi ini tidak menular. Sedangkan penyakit akibat infeksi biasanya timbul karena gangguan organisme patogen.
4. Pemanenan Ikan Patin
Pemanenan adalah saat yang ditunggu pada budi daya ikan patin. Meski terlihat sederhana pemanenan juga perlu memperhatikan beberapa aspek agar ikan tidak mengalami kerusakan,kematian, cacat saat dipanen. Sayang jika budi daya ikan patin sudah berhasil dengan baik, harus gagal hanya karena cara panen yang salah. Penangkapan ikan dengan menggunakan jala apung akan mengakibatkan ikan mengalami luka-luka. Sebaiknya penangkapan ikan dimulai dibagian hilir kemudian bergerak kebagian hulu. Jadi bila ikan didorong dengan kere maka ikan patin akan terpojok pada bagian hulu. Pemanenan seperti ini menguntungkan karena ikan tetap mendapatkan air yang segar sehingga kematian ikan dapat dihindari. Pemasaran Ikan Patin dalam bentuk segar dan hidup lebih diminati oleh konsumen, karena itu diusahakann menjual dalam bentuk ini. Harga Ikan Patin Per kilogram kurang lebih Rp 15.000.

Budidaya Lele Dumbo



Budidaya Lele Dumbo
 varietas,di Indonesia lele sudah dikenal dan bahkan yang dulunya hanya 2 varietas sampai sekarang sudah banyak varietas yang sudah dinyatakan  unggul dikarenakan adanya hasil  perkawinan silang. Jenis-jenisnya adalah lele local(Clarias Batrachus) dan lele dumbo(Clarias Gariephinus). lele termasuk jenis yang mudah di budidayakan,tetapi jika tidak dipelihara dengan baik lele juga dapat menjadi sulit untuk di pelihara oleh karena itu sebelum membudidayakannya perlu adanya pengalaman dan pengetahuan yang cukup agar kegiatan budidaya dapat memberikan hasil yang maksimal.

Ikan Lele ini mudah hidup di sembarang tempat dengan syarat kondisi air harus baik, dan lele dapat dipelihara dengan kepadatan yang tinggi dengan lama pemeliharaan yang relatif singkat ± 2,5 – 3 bulan jika pemeliharaan dilakukan secara intensif. Dalam membudidayakan lele ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu :

a.   Faktor tekhnis
*      Lahan harus dekat dengan sumber air tetapi bukan potensi banjir.
*      Air berkualitas baik bebas dari pencemaran limbah indutri.
*      Ketersediaan air cukup sepanjang tahun.
*      Tanah tidak porus.
*      Lokasi pemeliharaan mudah diawasi.
b.  Faktor sosial
*      Lingkungan hidup tetap terjaga
*      Sumber daya alam sekitarnya dapat dimanfaatkan.
*      Penduduk sekitar dapat dijadikan tenaga kerja.
*      Berdampak positif bagi masyarakat sekitar.
*      Keamanan lokasi dapat dijaga.
c.   Faktor Ekonomis
*      Lokasi pemeliharaan dekat dengan pasar.
*      Sarana produksi mudah diperoleh dengan harga murah.
*      Dilokasi ada prasarana jalan yang baik dan angkutan yang memadai.

Selain itu juga ada aspek lain yang tidak kalah pentingnya yaitu aspek tekhnis, tanpa aspek tekhnis usaha budidaya tidak akan berhasil. Harus ada tenaga ahli yang menguasai segala aspek tekhnis yaitu aspek biologis, pembenihan, pendederan, pembesaran, penanggulangan hama penyakit dan penanganan pasca panen serta pemasarannya.


A.  Lahan budidaya lele
Ø  Kolam Tanah
Ø  Kolam semen
Ø  Kolam terpal/plastik
B.  Persiapan kolam pembesaran
*      Pengeringan dan pengolahan lahan
*      Pengankatan Lumpur Hitam
*      Perbaikan pematang dan saluran air
*      Pengapuran
*      Pemupukan
*      Pengisian air kolam
C.  Penebaran benih
langkah- langkah dalam penebaran benih yang perlu diperhatikan :
*      Cara memperoleh benih,benih sebaiknya diperoleh dari daerah setempat dan tidak jauh dari tempat budidaya dengan perhitungan kesesuaian kondisi daerah seperti iklim, air dan tanah.
*      Syarat benih yang baik :
ü Ukuran seragam dan berwarna cerah.
ü Gerakan lincah dan gesit
ü Tidak cacat dan luka di tubuhnya
ü Bebas dari bibit penyakit
ü Posisi tubuh dalam air normal
ü Menghadap dan melawan arus ketika diberi arus.
ü Ukuran benih sebaiknya seragam sekitar 3-4 cm, 5-7cm, atau 7-9cm,agar tidak terjadi kanibalisme sehingga pertumbuhan diharapkan seragam.
*      Penebaran benih
ü  Sebelum di tebarkan kondisi kolam harus sudah dalam keadaan siap sebab tanpa kesiapan kolam usaha budidaya tidak akan berjalan dengan baik;ketinggian air dipertahankan 30-40 cm,air sudah ditumbuhi plankton dengan tanda warna air kehijauan,kualitas air memenuhi syarat untuk budidaya.
ü  Saat benih tiba dilokasi usahakan diamkan benih di dalam tempat budidaya beserta wadahnya beberapa menit sebelum ditebarkan kedalam tempat budidaya dengan tujuan agar ikan dapat beradaptasi dgn lingkungan barunya. Pada saat benih akan dimasukkan ke tempat budidaya masukan air secara perlahan dengan cara memiringkan wadah/ember tempat benih dan biarkan benih keluar dengan sendirinya dari wadah ke tempat lingkungan barunya.

*      Padat penebaran benih
Yaitu banyaknya jumlah benih ikan yang akan ditebarkan persatuan luas atau volumen. Semakin tinggi jumlah penebaran benih semakin intensif pemeliharaannya.
Padat penebaran benih berkisar antara 200 - 400 ekor/m². lama pemeliharaan 2,5-3 bulan.

D.  Program Pemberian Pakan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan adalah :
*      Jangan ada sisa pakan di permukaan
*      Bila 5 menit dalam pemberian pakan ada sisa dipermukaan,maka pemberian pakan berikutnya diturunkan 25 %
*      Bila setelah pemberian pakan ikan masuh aktif dan pakan langsung habis maka pakan selanjutnya dapat dinaikan.
*      Seminggu sekali ikan sebaiknya dipuasakan dengan tujuan agar perut ikan bersih dari sisa pakan.
*      Setiap pergantian air sebaiknya ikan tidak diberi pakan.
David Kurniawan, S.St.Pi
e-mail : david.kurniawan_perikanan@yahoo.com
Hp:08567778123  /  082134207700